Showing posts with label cerita misteri. Show all posts
Showing posts with label cerita misteri. Show all posts

Kisah Mesin Jahit Goyang di Kediaman Cut Nyak Dien

 
Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan Indonesia yang diasingkan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang karena dianggap berpotensi membuat ancaman.

Tanpa fisik yang sempurna, Cut Nyak Dien akhirnya diasuh dan dirawat oleh keluarga K.H Sanusi yang merupakan ulama Masjid Agung Sumedang. Dia pun tinggal di rumah K.H Sanusi yang berada tidak jauh dari makamnya.

Rumah berukuran 12 x 14 meter itu tampak sepi dari pengunjung. Rumah tersebut merupakan saksi sejarah kisah pahlawan wanita Indonesia, Cut Nyak Dien saat melewati hari – harinya sebagai orang yang diasingkan oleh tentara Belanda.

Di rumah tersebut, ada sebuah ruangan berukuran 3 x 5 meter yang menjadi kamar Cut Nyak Dien. Di kamar tersebut terdapat ranjang berukuran 2 x 2 meter. Selain itu, ada juga mesin jahit di dalam rumah tersebut. Menurut pengakuan beberapa orang yang berada di sana, konon mesin jahit tersebut suka berjalan sendiri.

“Katanya sih mesin jahitnya suka berjalan atau goyang – goyang sendiri, seperti ada orang yang sedang menjahit,” kata Dwi salah seorang yang pernah mengunjungi rumah K.H Sanusi yang juga merupakan rumah tempat Cut Nyak Dien dirawat.

Rumah itu berbentuk seperti rumah panggung. Di dalamnya sudah tidak banyak barang hanya benda – benda peninggalan yang dipakai oleh Cut Nyak Dien. Menurut Dadang, anak cucu keturunan K.H Sanusi benda – benda tersebut sengaja dipindahkan.

“Benda – benda yang lainnya masih digunakan oleh keluarga sehingga ada yang dipindahkan. Kalau yang ada di rumah hanya benda yang digunakan oleh Cut Nyak Dien saja,” kata Dadang.

Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional dari Aceh Barat yang mendapat julukan Srikandi Indonesia. Dia anak dari Teuku Nanta Setia, sedangkan ibunya adalah bangsawan dari Lampagar. Cut Nyak Dien dilahirkan tahun 1848, dari kecil dia mendapat pendidikan agama dari lingkungan bangsawan – bangsawan Aceh.

Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tanggal 6 November 1905 atas laporan panglima perangnya Teuku Panglaor. Laporan Panglima Panglaor sebenarnya bukan untuk mengkhianatinya tetapi dia merasa kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dien karena Cut Nyak Dien sudah tidak bisa melihat (buta). Panglima meminta Belanda untuk tidak menyiksanya atau pun diasingkan.

Tetapi pada 11 Desember 1906, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang bersama panglima perangnya dan seorang anak laki – laki berumur 15 tahun bernama Teuku Nana. Pada waktu itu Gubernur Jenderal Belanda J.B.V Heuts yang menerima Cut Nyak Dien. Dia langsung menyerahkan Cut Nyak Dien kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmadja (Pangeran Mekah) yang merupakan anak dari Pangeran Aria Kusumah Adinata (Pangeran Soegih).

Untuk perawatan Cut Nyak Dien, Pangeran Mekah menyerahkannya kepada seorang ulama Masjid Agung Sumedang yang sudah mendapat gelar Penghulu bernama K.H Sanusi. Tetapi K.H Sanusi hanya satu tahu merawat Cut Nyak Dien karena beliau meninggal tahun 1907. Perawatan Cut Nyak Dien pun dilanjutkan oleh anak K.H Sanusi bernama H. Husna, sampai Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 Novemper 1908 dan dimakamkan di lokasi Makam Keluara H. Husna di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Jawa Barat.

Kegiatan Cut Nyak Dien selama dalam perawatan H. Husna walaupun matanya sudah tidak bisa melihat, tapi beliau masih bisa memberikan pelajaran mengaji khususnya kepada ibu – ibu warga Kaum, umumnya masyarakat Sumedang. Sehingga Cut Nyak Dien mendapat julukan Ibu Perbu atau Ibu Ratu, sedangkan masyarakat Sumedang menyebutnya Ibu Suci.

Orang yang paling dekat dengan Cut Nyak Dien adalah Siti Hodijah yang merupakan anaknya H. Husna. Siti wafat pada tahun 1967 dan di makamkan di Gunung Puyuh. Cut Nyak Dien berkomunikasi hanya dengan K.H Sanusi, H. Husna, dan Siti Hodijah, itu pun dengan bahasa Arab.

Sebelum tahun 1950, tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dien dimakamkan di Gunung Puyuh, masyarakat hanya tahu bahwa makam tersebut adalah makam Ibu Perbu. Mereka baru mengetahuinya setelah H. Husna wafat pada tahun 1948 bahwa itu adalah makam Cut Nyak Dien.

Setelah Cut Nyak Dien wafat, Teuku Nana seorang bocah yang juga diasingkan bersamanya tetap tinggal di Sumedang dan menikah dengan gadis dari Cipada bernama Iyoh. Mereka mempunyai tiga orang anak bernama Maskun, Ninih, dan Sahria. Kemudian pada tahun1930 Teuku Nana, istrinya, dan anak – anaknya pulang ke Aceh dan tidak pernah kembali lagi ke Sumedang.

Setelah penduduk mengetahui makam Cut Nyak Dien, pada tahun 1962, Rd. Oemar Sumantri, anak Siti Hodijah, memberikan izin untuk upacara sederhana mengenang jasa – jasa Cut Nyak Dien ke sebelah barat. Pada tahun 1972, makam Cut Nyak Dien direnovasi oleh Pemerintah Daerah Sumedang dan pada tahun 1987, bangunan tersebut direnovasi kembali oleh Bapak Bustanil Arifin, Menteri Bulog bersamaan dengan mendirikan Meunasah (mushola) yang diresmikan oleh Gubernur Nangroe Aceh Darussalam, Bapak Ibrahim Hasan.

Kini, makam Cut Nyak Dien sudah seperti makam yang dari sisi arsitektur tua tetapi memiliki unsure modern. Berbeda dengan makam – makam yang ada di sekitarnya, termasuk makam Pangeran Soegih yang jaraknya hanya beberapa meter dari makam Cut Nyak Dien. Jika makam Cut Nyak Dien letaknya berada di tengah – tengah makam para pengasuhnya, makam Pangeran Soegih yang merupakan mantan Bupati Sumedang yang ke – 7.

Sementara makam Cut Nyak Dien tidak terlalu berbau mistis, di makam Pangeran Soegih suasana mistis justru lebih kentara. Saat pertama kali memasuki makam Pangeran Soegih, kita disuguhkan dengan berbagai bunyi – bunyian hewan, selain itu bau dupa pun amat sangat menyengat.

Di makam Pangeran Soegih disediakan tempat menginap bagi para peziarah yang ingin berdoa. Tetapi kalau di makam Cut Nyak Dien tidak disediakan tempat menginap.

“Makam Cut Nyak Dien memang sengaja tidak disediakan tempat menginap karena di sini adalah makam pahlawan bukan makam raja. Kalau di makam raja memang disediakan tempat menginap agar para peziarah bisa dengan khusyuk berdoa untuk para raja di sini,” kata Dadang penjaga makam Cut Nyak Dien dan makam keluarga K.H Sanusi.

Dadang merupakan salah satu keturunan K.H Sanusi yang merawat Cut Nyak Dien. Setiap harinya dia bekerja dengan menjaga makam. Dia harus berjalan kurang lebih 3 kilometer dari tempat tinggalnya. Karena dia tinggal di sekitaran Masjid Agung yang juga merupakan tempat tinggal Cut Nyak Dien.

Selain menjaga makam terkadang dia juga menjaga rumah bekas tempat tinggal Cut Nyak Dien. Tidak jarang dia sering ditemui oleh sang pemilik rumah.

“Kalau mimpi sering sekali bertemu dengan Cut Nyak Dien, terkadang saya memanggilnya dengan sebutan nama tetapi kadang – kadang saya panggil ibu,” kata Dadang.

Menurut Dadang, tidak ada yang menyeramkan dari sosok Cut Nyak Dien. Pertemuannya dengan Cut Nyak Dien justru membawa berkah tersendiri untuknya. Karena setiap kali bertemu dia selalu diberikan nasihat – nasihat, khususnya untuk urusan ekonomi dan keluarga.

“Kalau di mimpi ibu kadang – kadang suka kasih nasihat soal masalah ekonomi, apalagi kalau ada yang punya usaha dia harus melakukan apa agar usahanya itu berhasil. Selain itu ibu juga suka kasih nasihat agar rumah tanggan menjadi harmonis sampai tua,” kata Dadang serius.

Dadang mengaku ketika menjaga rumah Cut Nyak Dien tidak pernah menemukan sosok Cut Nyak Dien. Dia justru pernah bertemu langsung dengan Cut Nyak Dien saat dirinya sedang menjaga makamnya.

“Waktu itu saya habis wirid di musala terus tiba – tiba saya melihat ada sosok berbaju putih sedang berdiri di depan makam Cut Nyak Dien. Dia itu tinggi dan langsing. Pas saya lihat ternyata itu Cut Nyak Dien, lalu saya langsung mengucapkan salam kepadanya. Setelah mengucapkan salam dia langsung hilang,” kata Dadang.

Dadang mengatakan sangat bersyukur memiliki kesempatan menjaga tempat – tempat penting yang pernah dihuni oleh Cut Nyak Dien. Dia mengaku, sejak tahun 1963 dia menjaga makam tersebut. Namun selama itu dia menjaga belum pernah ada seorang pun sanak keluarga asli dari Cut Nyak Dien yang datang untuk nyekar ke makam Cut Nyak Dien.

“Kalau orang – orang dari Aceh memang banyak yang pernah datang ke sini tetapi belum pernah ada keluarga kandungnya yang datang ke sini untuk mendoakan makam Cut Nyak Dien,” kata Dadang.

Meski begitu, Dadang mengaku sudah senang dengan keberadaan penduduk lain selain dari kota Aceh yang datang ke makam Cut Nyak Dien. Karena banyak juga dari mereka yang datang untuk berdoa. “Meski memang banyak dari mereka yang datang untuk minta ditambahkan rezeki atau dilancarkan usahanya,” kata Dadang.

Menurut Dadang hal tersebut meman sudah biasa dilakukan oleh para peziarah. Karena tradisi di Sumedang masih sangat kental dengan hal – hal mistik. “Kalau di Sumedang itu terkenalnya selain makanan tahu juga terkenal dengan dunia mistisnya. Kebanyakan orang – orang yang datang ke sini itu untuk berziarah, untuk meminta agar rezekinya atau usahanya dilancarkan. Banyak caranya termasuk datang ke makam, menginap sampai beberapa hari sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Dadang.

Sementara untuk tempat tinggal Cut Nyak Dien, Dadang mengatakan sampai saat ini kondisi rumah masih tetap bagus seperti dulu. Apalagi, lanjutnya, rumah itu sekarang sudah direnovasi dan dijadikan sebagai museum. “Rumahnya sekarang jadi lebih bagus karena sudah dijadikan museum oleh pemerintah daerah Sumdedang,” kata Dadang.

Terkait banyaknya kisah – kisah mistis di rumah tersebut, Dadang mengatakan hanya pernah mendengarnya saja dari beberapa orang yang pernah mengunjungi rumah tersebut. Namun, dia sendiri mengaku belum pernah mengalaminya sendiri.

“Kalau di rumah Cut Nyak Dien saya belum pernah mengalaminya tetapi kalau mendengar ceritanya pernah. Yang paling sering dicerita yaitu adanya penghuni yang menghuni di mesin jahit yang biasa dipakai Cut Nyak Dien. Beberapa dari orang – orang yang pernah datang cerita kalau mereka pernah melihat mesin jahit itu bergoyang – goyang, seperti ada orang yang sedang menjahit,” katanya.

Namun Dadang meminta agar masyarakat tidak menghiraukan hal – hal seperti itu. Karena menurutnya, disetiap tempat apalagi yang mempunyai nilai sejarah pasti ada saja penghuninya.

“Kita boleh saja percaya tetapi jangan terlalu dilebih – lebihkan karena nantinya malah jadi musyrik dan hal itu sangat dibenci oleh Allah. Kita berdoa saja agar Cut Nyak Dien dan raja-raja di Sumedang bisa meninggal dengan tenang di sana,” kata Dadang serius.

Misteri Pohon Goyang di Gunung Kunci


Misteri Pohon Goyang di Gunung Kunci-Gunung Kunci yang berdiri kokoh di Kota Sumedang, Jawa Barat, diyakini menyimpan banyak kisah misteri, salah satunya pohon yang selalu bergoyang– goyang meski tak ada angin.

Matahari enggan menunjukkan sinarnya, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Meski begitu, tidak ada yang mengubah kesibukan para pedagang yang biasa mangkal di depan tempat wisata Gunung Kunci.

Gunung Kunci terletak di Dusun Peniunan, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Lokasi situs ini terletak di atas kawasan Taman Hutan Raya Gunung Kunci dan Gunung Palasari yang merupakan kawasan hutan Negara. Gunung ini berfungsi sebagai kawasan hutan konservasi dengan luas 3,67 Ha berupa hutan pinus dengan ketinggian 500 mdpi.

Novi sedang asik bermain ayunan di bawah pohon besar yang berada di Gunung Kunci. Tidak jauh dari tempat Novi terlihat sebuah gua yang sudah roboh dan hanya menyisakan genangan-genangan air.

Menurut Novi, terkadang di gua tersebut sering muncul bunyi–bunyi seperti seseorang tentara yang sedang berjalan. “Kadang-kadang juga kalau kata cerita-cerita orang-orang sini mereka suka melihat pohon yang bergoyang-goyang, padahal tidak ada angin atau orang,” kata gadis kelas 2 SMK tersebut.

Novi mengaku sudah sering berkunjung ke Gunung Kunci. Namun dia sendiri belum pernah bertemu setan yang ada di Gunung tersebut. Dia hanya pernah mendengar cerita- cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Gunung Kunci.

Hal senada juga diungkapkan oleh Usep. Usep adalah penjaga Gunung Kunci. Sudah empat tahun dia bekerja untuk menjaga Gunung yang merupakan bekas benteng Belanda tersebut. Namun, dia mengaku belum pernah diperlihatkan oleh sosok makhluk gaib di tempat itu.

“Kalau cerita misteri saya belum pernah mengalaminya, tetapi saya sering mendengar dari beberapa pengunjung yang datang. Katanya mereka pernah melihat pohon yang suka bergerak sendiri atau pohon yang menyerupai manusia bertubuh tinggi besar,” kata Usep dengan nada serius.

Menurut Usep, Gunung Kunci dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan. Di dalam gunung yang dibuat sekira tahun 1914–1917 terdapat sejumlah gua yang saling menyambung, bunker, dan juga benteng yang dilengkapi dengan kubah meriam dan senapan mesin. Namun, saat ini meriam dan senapan tersebut tidak lagi dipasang di gunung tersebut.
Selain itu, kondisi gua-gua yang ada pun sudang runtuh. Gua yang seharusnya menyambung sambil ke benteng pertahanan kini sudah dipagar. Apalagi gua tersebut dalam keadaan gelap dan lembab.

“Pernah dalam sebuah acara televisi yang melakukan uji nyali di gua tersebut pesertanya ada yang melihat tuyul. Kalau nggak salah terekam kamera juga. Itu sempat heboh juga di sini,” kata Usep.

Tidak hanya itu, ada juga beberapa penduduk yang berdagang di gunung ini sering diganggu oleh makhluk gunung. Kebanyakan dari mereka sering mendengar suara derap langkah tentara yang sedang berjalan bersama-sama.
                                                                        *****

Ujang sedang asik berkumpul bersama dengan para tukang ojek yang lainnya. Belum ada pelanggan yang datang untuk memakai jasanya. Oleh karena itu, sambil menunggu dia pun lebih memilih mengobrol dibandingkan tidur-tiduran di sebuah pos jaga yang berada tidak jauh dari tempat pangkal ojek.

Ujang sudah lebih dari empat tahun menjadi tukang ojek di daerah wisata Gunung Kunci. Setiap harinya dia menghabiskan waktu mangkal di depan Gunung Kunci untuk mendapatkan uang yang nantinya digunakan sebagai keperluan sehari – hari keluarganya.

Ujang bercerita empat tahun menjadi tukang ojek di depan Gunung Kunci pernah mengalami kisah-kisah misteri di Gunung bekas pengaduan domba tersebut. “Waktu itu malam – malam, saya bersama beberapa teman tukang ojek yang lainnya lagi asyik ngobrol di dekat pintu masuk Gunung. Kami merasa mendengar ada suara tentara berjalan padahal Gunung itu sendiri sudah dikunci sejak dari jam 5 sore,” katanya.

Lelaki berusia 45 tahun ini mengaku memang beberapa tukang ojek yang lainnya juga sering mendengar suara-suara tersebut. Tidak hanya suara derap langkah, terkadang terdengar juga suara hewan-hewan, padahal di gunung tersebut tidak ada hewan yang dipelihara.

“Katanya sih dulunya ada bekas pengaduan domba di sini, mungkin itu yang sering didengar sama masyarakat di sini. Tapi sih ada juga yang pernah dengar suara ayam berkokok atau suara-suara orang tertawa,” kata Ujang dengan raut wajah serius.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sapri. Sapri sendiri sekarang hanya menjadi tukang ojek di gunung tersebut saat gunung dibuka. Namun setelah ditutup dia lebih memilih mangkal di tempat yang lain. Alasannya jarang ada pelanggan yang menggunakan jasanya jika sudah sore.

Sapri mengatakan pernah dipanggil oleh seseorang. Menurutnya saat itu kondisi di sekitar Gunung Kunci sedang hujan. “Waktu itu saya merasa kayak ada yang manggil – manggil tukang ojek, padahal waktu itu lagi hujan. Pas saya cariin tapi ngga ada orangnya. Habis itu saya langsung pulang saja karena saya takut,” katanya.
                                                                                    *****
Keberadaan Gunung Kunci sebenarnya merupakan ikon tersendiri untuk warga Sumedang. Karena selain sebagai tempat wisata gunung ini juga merupakan paru – paru kota.

Ditanamnya pohon – pohon besar seperti pohon pinus dan pohon mahoni, menandakan bahwa kota Sumedang masih memiliki resapan air sehingga akan terhindar dari bencana banjir. Namun, bagi sebagian orang atau pengunjung, gunung tersebut justru kerap dijadikan tempat berpacaran.

Menurut Usep, pernah ada sepasang kekasih yang tidak sengaja berpacaran di gunung tersebut. Mereka pun diganggung oleh penghuni gunung dengan cara pohon – pohon yang ada di sekitarnya itu berubah menjadi orang bertubuh tinggi dan besa.

“Memang kadang – kadang pengunjung suka sembarangan di sini, mereka pacaran mungkin sampai berbuat hal-hal yang dilarang. Jadi mereka diganggungin sama penghuni gunung ini,” kata Usep.

Saat reporter Okezone mengunjungi Gunung Kunci memang terlihat sejumlah pasangan muda mudi sedang bermesraan di gunung tersebut. Ada sebagian dari mereka yang berpacaran di sekitar benteng sampai ke tempat bekas pengaduan domba yang jaraknya lumayan jauh dari pintu masuk.

Ada juga beberapa pasangan yang nekad pacaran di dekat gua yang kondisinya sangat gelap. “Pernah ada yang kesurupan di gua itu, katanya mereka pacaran di gua yang bekas benteng,” kata Usep dengan serius.
                                                                        *****
Usep mengaku, sebagai penjaga situs Gunung Kunci dirinya hanya berani menjaga hingga pukul 17.00 WIB. lebih dari itu, butuh beberapa penjaga lagi. Karena situs ini terkenal dengan sumber daya alamnya dan juga kondisi gunung yang dibuat gelap membuat gunung menjadi sedikit menyeramkan.

“Saya tidak pernah jaga sampai lebih dari jam 5. Pokoknya kalau sudah jam 4 saya umumkan ke para pengunjung untuk segera turun. Ini karena kondisi gunung yang gelap, hal itu membuat gunung menjadi lebih menyeramkan,” kata Usep.

Namun, lanjut Usep, dia terpaksa menambah jam jaga jika ada permintaan dari dinas setempat. “Misalnya kalau ada kunjungan dari paranormal atau yang lainnya. Kayak waktu itu kunjungan Ki Joko Bodo yang datang ke sini, kami harus menjaga lebih lama tetapi semuanya penjaganya datang ke Gunung,” kata Usep.

Usep mengatakan, saat kedatangan Ki Joko Bodo semua makhluk gaib yang ada di Gunung Kunci sudah diamankan di dalam sebuah botol. Menurutnya, Ki Joko Bodo sendiri yang menunjukkan botol-botol berisi makhluk-makhluk yang ada di Gunung Kunci tersebut.
“Katanya memang di sini banyak penunggunya. Kalau saya sih percaya saja karena yang namanya tempat hutan belantara. Jangankan di tempat seperti ini di rumah sendiri saja pasti ada makhluk gaibnya,” kata Usep.

Menurut Usep, saat itu Ki Joko Bodo mengungkapkan makhluk yang paling menyeramkan dan jahat yaitu adanya sosok tentara Belanda. Namun, keberadaan mereka semua diklaim sudah diamankan oleh Ki Joko Bodo.
                                                                                    *****
Tidak jauh dari Gunung Kunci, masih ada di pusat kota Sumedang ada juga Gunung Palasari. Gunung yang dikenal sebagai Benteng Palasari ini terletak di Kelurahan Pasangrahan.

Benteng ini dibangun sekira tahun 1913 – 1917 di atas tanah seluas 6 Ha. Terdiri dari 8 buah bangunan beton. Masing – masing benteng dibangun secara terpisah dalam jarak satu sama lain dengan bentuk melingkar, sama seperti yang ada di Gunung Kunci.
Di dalam benteng ini terdapat 27 ruangan berpintu yang dilengkapi 35 buah jendela dengan 46 buah lubang ventilasi.

Dulunya benteng Palasari yang merupakan benteng tertinggi di sekitar kota Sumedang ini berfungsi sebagai gudang mesiu atau sebagai pos observasi yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari tangsi Belanda (sekarang Kodim Sumedang).

Menurut Usep, Benteng Palasari tidak terbuka seperti Gunung Kunci. Karena jalan – jalan di benteng tersebut masih rusak dan tidak disemen seperti yang ada di Gunung Kunci. Selain itu, bangunan yang ada juga hanya sedikit dibandingkan yang ada di Gunung Kunci.

“Tetapi jalanannya yang masih berantakan yang menjadi alasan utama benteng itu tidak dibuka untuk umum seperti yang ada di Gunung Kunci,” kata Usep.

Sama seperti yang ada di Gunung kunci, kondisi di sekitar benteng Palasari pun tidak jauh berbeda. Benteng itu dibuat gelap oleh pemerintah daerah setempat. “Mungkin karena hanya ada benteng – benteng dan gua – gua jadinya tidak perlu dikasih lampu. Lagi pula di Gunung kunci sama di benteng Palasari tidak diperbolehkan digunakan untuk kegiatan pramuka. Karena di gunung ini semuanya gelap,” kata Usep.

Nenek Tua Tewas Karena di Duga Pelihara Genderuwo


Nenek Tua Tewas Karena di Duga Pelihara Genderuwo - Kabar ini baru saja saya dapatkan . Benar-benar tidak masuk akal. Hanya karena tuduhan yang juga tidak masuk akal Seorang Nenek Tua dikabarkan tewas dihakimi masa karena dicurigai telah memelihara makhluk ghaib yaitu Genderuwo . Belum ada kejelasan pasti tentang nasib si Nenek saat ini . Pihak Kepolisian sedang mendalami kasus tersebut dan kabarnya sang Nenek sedang berada di rumah sakit untuk dilakukan otopsi .

Kabar ini saya dapatkan dari teman saya yang kebetulan berada di daerah Lampung . Menurut penuturan warga , sang Nenek sudah sangat lama dicurigai melakukan ritual yang aneh . Naasnya lagi , kejadian hilangnya wanita muda dan anak-anak di daerah tersebut membuat warga mencurigai aksi ritual yang dilakukan sang Nenek . Apapun itu , negara kita tidak ada mengatur undang-undang tentang Supranatural . Supranatural tidak dianggap sebuah ancaman bagi negara . Lagi pula , Ilmu Supranatural tidak bisa dibuktikan secara logika .


Mengingat hal itu , banyak terjadi fitnah dan tidak sedikit pula kejadian seperti ini banyak memakan korban . Warga seharusnya tidak main hakim sendiri , apapun itu kita harus menggunakan azas praduga tak bersalah . Jika belum ada bukti yang mengarah kepada Si Nenek , maka kita tidak bisa menghakiminya . "Tidak ada gunanya jika dibawah kepada Polisi",Ungkap seorang warga yang ditemui oleh teman saya di lokasi kejadian .

Pelihara Tuyul , Pria Ini Dilaporkan Warga Ke Polisi

 
Juri Rakyat - Karena dianggap memelihara tuyul , seorang pria di daerah Deli Serdang dilaporkan oleh ke pihak kepolisian . Warga disinyalir geram dikarenakan pria tersebut melakukan kegiatan yang sangat mencurigakan . Banyak warga yang merasa barang-barang miliknya hilang , mulai dari sepeda motor , uang , dan emas . Dengan adanya kejadian tersebut , banyak warga yang sudah melaporkan kepada pihak kepolisian tetapi hasilnya sampai sekarang masih nihil .

Maman , seorang warga yang mengaku pernah kehilangan sepeda motor menyebutkan ada indikasi jika yang bermain adalah putra daerah sini juga . Maman juga menambahkan , pihak warga sudah membentuk sendiri tim yang ditugaskan menyelidiki pelaku dari semua kejadian hilangnya barang-barang milik warga . Tidak memakan waktu cukup lama , Asep seorang warga dari perkampungan sebelah pun ditangkap .



Konon katanya , Asep memiliki ilmu ghaib yang dapat menghilang . Bahkan beliau juga memelihara makhluk tuyul dirumahnya . Berdasarkan penuturan seorang warga yang namanya tidak ingin disebutkan , mengaku bahwa seminggu ini telah mencurigai gerak gerik dari tersangka . "Beliau sering lewat di kampung ini , dan kalau lewat mata nya liar melihat rumah warga".

Cerita Rakyat - Puncak 29 (Songo Likur)


Juri Rakyat - Cerita Rakyat - Puncak 29 (Songo Likur) Pada postingan kali ini saya pengen mengenal kan salah satu gunung di gugusan gunung di daerah kota kudus-jawa tengah, mungkin nama gunung ini terdengar asing di telinga anda bagi yg luar jawa. Tapi di balik nama asing gunung ini tersimpan keindahan budaya tanah jawa yg teramat kental dan mistik…… gunung ini terkenal dengan sebutan Wukir Rahtawu (puncak 29 ).

Rahtawu sebenarnya adalah nama desa di lereng Gunung Muria masuk Kecamatan Gebog itu, bagi masyarakat Kudus dikenal banyak menyimpan misteri. Sekitar tiga dasa warsa yang lalu (lebih 30 tahun-Red), Rahtawu merupakan sebuah desa yang sangat terisolir. Sebab, belum ada jalan poros desa. Roda empat pun tak bisa menuju ke desa itu, termasuk angkudes. Satu-satunya jalan adalah lewat jalan setapak. Pendatang harus rela berjalan kaki sekitar lima kilometer mulai dari Desa Menawan. Berkat jasa Bupati Marwotosoeko, dengan tekad gugur gunung, jalan menuju desa tersebut sudah dilebarkan, sehingga Rahtawu menjadi seperti sekarang ini.

Meskipun lokasi tidak mudah dicapai, Rahtawu mempunyai daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melakukan ritual ziarah. Di kawasan Rahtawu banyak menyimpan petilasan (bukan makam-Red) dengan nama-nama tokoh pewayangan leluhur Pandawa. Sebut saja petilasan Eyang Sakri, Lokajaya, Pandu, Palasara, Abiyoso. Selain itu di sana juga ada kawasan yang diberi nama Jonggring Saloka dan Puncak Songolikur.

Petilasan itu banyak menarik minat orang untuk datang berziarah. Di setiap daerah biasanya ada pantangan tertentu. Di Rahtawu juga ada pantangan, yakni warga dilarang nanggap wayang kulit. Meski di sana banyak nama petilasan bernama leluhur Pandawa. Sampai sekarang tidak ada yang berani melanggar. Bila dilanggar, konon yang bersangkutan terkena bencana. Jadi kalau ada warga punya hajat, paling nanggap tayub, karena diperbolehkan.

Kata orang desa sana nama Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (bahasa jawa) kalo indonesianya (darah yang bercecer ) Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyoso yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan keturunan dinasti Bharata/para shangyang.

Sebuah misteri yang membingungkan , ( aku aja bingung…..hehehehhe ) banyak sekali tokoh 2 pewayangan yang petilasan nya masih di rawat oleh penduduk sekitar sampai sekarang bahkan banyak orang – orang dari luar kudus ( jateng ) banyak yg berdatangan untuk menikmati suasan pegunungan dan mistik yg ada di gunung tersebut , menurut pengalaman saya tidak salah kalau orang -orang yang suka mistik ( terutama yang beraliran kejawen ) banyak yang berdatangan ke gunung Rahtawu karena memang dari lereng gunung sampai puncak gunung itu berjajar banyak sekali petilasan – petilasan dari para tokoh pewayangan yang di sucikan dan di sebut ” eyang ” oleh penduduk sekitar . Berikut ini adalah nama – nama petilasan para tokoh pewayangan yang ada di gunung Wukir Rahtawu : Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloko, dukuh Semliro, desa Rahtawu. Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung “Abiyasa”, ada yang menyebut “Sapta Argo”.

Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung “Songolikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya. Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah timur. Eyang Lokajaya (Guru Spiritual Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga (sebelum bertaubat), di Rahtawu. Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro. Memang didaerah rahtawu peradaban Hindu, budha tidak tampak jelas karena tidak di temukan candi / arca yang sebagai mana di temukan di daerah lain yang mempunyai peradaban hindu / budha , yang ada hanyalah petilasan 2 batu datar yang menurut penduduk sekitar merupakan bekas tempat bersemedinya para ” suci “.

Ada satu lagi yang aneh dari kebudayaan warga sekitar, meskipun semua petilasan yang ada di Wukir Rahtawu identik dengan para tokoh Pewayangan ( Mahabarata – Hindu ) tapi di sana sangat di tabukan untuk mengadakan pagelaran wayang. Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut. Menurut saya pribadi sesungguhnya gunung rahtawu dlm kajian mistik adalah netral dalam artian ,Hitam dan Putih tergantung manusianya. Kalau mau wisata mistik ke rahtawu pasti ketemu macam2 dukun/orang pintar dr mana saja datang saja dan nginap dr yg saya tahu dukun2 yg kejawen di daerahku gak lepas dr rahtawu. Saya yakin ada para bolowongalus yg sudah pernah ke rahtawu.


sumber: Kampus Wong Alus

10 Penampakan Hantu di Indonesia.

 
Juri Rakyat - 10 Penampakan Hantu di Indonesia. Apabila berbicara mengenai sosok hantu, memang tidak semua orang bisa percaya. Sebab ada sebagian yang menganggap hantu itu tak pernah ada di dunia. Sementara orang barat hanya percaya akan roh jahat. Akan tetapi ada juga yang berpikir manusia hidup di dunia ini dikelilingi oleh sosok-sosok kasat mata yang hanya sedikit saja bisa merasakan kehadiran mereka.
Jadi salah satu cara untuk bisa melihat makhluk halus itu adalah melalui foto.Karena terkadang kamera bisa ‘menangkap’ hantu. Meskipun memang ada banyak sekali foto penampakan yang berupa tipuan, mengenai hasilnya terpulang kepada kamu entah percaya atau tidak.  Berikut info yang dikutip dari berjambang.blogspot.com

1. Berjalan di Lorong

Berjalan di Lorong
Lorong yang panjang, sepi dan gelap selalu disebut-sebut sebagai tempat favorit hantu. Karena itu seringkali dalam kamera CCTV bisa merekam sosok aneh yang tiba-tiba muncul dan menghilang sehingga itu dipercaya sebagai sosok hantu.Nah, bagaimana perasaanmu jika kamu sedang berjalan di lorong dan di jauh di depanmu ada sosok misterius seperti ini? Lari ketakutan atau malah melawannya?

2. Tanpa Kaki

Tanpa Kaki
Tidak memiliki anggota tubuh sempurna dan kerap kali melayang-layang adalah gambaran sosok hantu yang mungkin kerap kamu ketahui dari film-film horor atau cerita masyarakat. Apakah seperti sosok satu ini? Tampak dari kejauhan dia adalah seseorang yang berjalan dengan balutan kostum putih, tapi tunggu dulu dan lihat bagian kakinya karena tak ada dan tampak melayang begitu saja.

3. Arwah Yang Bangkit?

Arwah Yang Bangkit?
Ketika seseorang meninggal, sudah pasti akan ada arwah yang terlepas dari raganya. Kerap kali kejadian itu diceritakan dengan bumbu kisah-kisah hantu seperti penampakan arwah seseorang yang meninggal tersebut. Seperti ini, entah hantu atau tidak namun dalam foto tampak seseorang yang terbaring tepat di atas tubuhnya ada sosok yang duduk melayang. Aneh?

4. Sosok Genderuwo?

Sosok Genderuwo?
Genderuwo merupakan salah satu jenis hantu yang dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia. Digambarkan genderuwo itu bertubuh tinggi besar dan berbulu serta mendiami daerah-daerah lembab dan gelap seperti bukit-bukit, gunung-gunung dengan banyak pohon besar dan lebat. Lantas jika foto orang yang berpose di depan air terjun dan tiba-tiba tampak selubung menyerupai sosok tinggi besar seperti ini apakah asli atau palsu?

5. Kuntilanak Berjalan

Kuntilanak Berjalan
Selain pocong, sosok kuntilanak adalah salah satu hantu yang juga populer di Indonesia. Digambarkan hantu ini adalah sosok perempuan hamil yang meninggal secara tak wajar dan menghantui banyak orang dengan kostum serba putih serta rambut panjang berantakan. Apakah itu mirip dengan apa yang terlihat di foto ini.

6. Melayang Saat Kemah

Melayang Saat Kemah
Masa berkemah dengan teman-teman saat sekolah memang menyenangkan.Tidur di dalam tenda dan saat keluar yang ada di sekeliling adalah alam bebas.Hanya saja, banyak yang bilang jangan sendirian di luar tenda terutama di malam hari karena bisa diganggu hantu. Well, sepertinya itu tak sepenuhnya benar karena sekalipun bersama-sama, kamu bisa menemukan sosok misterius yang tiba-tiba masuk di fotomu.

7. Ingin Merangkul

Ingin Merangkul
Pernahkah kamu mendengar ucapan orang ‘Jangan foto di tempat kecelakaan, nanti ada hantu yang ikutan nongol’. Wah memang tak ada yang bisa membenarkan soal hal itu, tapi foto kedua orang perempuan ini mungkin bisa sedikit banyak menjawabnya. Asyik berfoto, tiba-tiba ada sosok bayangan yang tangannya seakan ingin merangkul. Menurutmu itu apa?

8. Ikutan Foto Kelas
Ikutan Foto Kelas
Seringkali ketika kamu SMA kamu begitu senang berfoto di dalam kelas bersama teman-teman. Karena kelak kamu sudah dewasa dan melihat foto itu, kamu akan mengenang betapa bahagianya saat bersama teman sekolah. Tapi tunggu, bagaimana jika ada sesuatu aneh yang muncul dalam foto itu? Seperti tiba-tiba tangan hitam yang tidak diketahui pemiliknya padahal saat dihitung di foto semua temanmu sudah masuk dalam frame. Jadi tangan siapa ya?

9. Hiiy, Ada Pocong!

Hiiy, Ada Pocong!
Oke, kamu pasti mengenal sosok ini. Bahkan semenjak kecil sosok pocong sudah digambarkan sebagai salah satu paling mengerikan asli dari Indonesia. Ya, bentuknya yang tertutup kain putih, membuat pocong dianggap arwah penasaran yang enggan meninggalkan dunia. Banyak orang takut dengan pocong, namun sepertinya pocong yang satu ini tidak takut dengan manusia dan malah ikut foto. Asli atau rekayasa ya?

10. Kepala di Sumur

Kepala di Sumur
Sumur adalah tempat yang dibangun manusia untuk mencari sumber air di bawah tanah dan kerap kali dipakai untuk tempat penampungan air. Karena menembus tanah, otomatis sumur berbentuk dalam ke bawah dan sangat gelap sehingga kerap kali dipercaya sebagai tempatnya hantu. Seseorang ingin mencoba membuktikannya, berfoto di pinggir sumur eh ada sosok kepala yang ikut terfoto dengan mata yang kuning. Pertanyaannya, ini asli atau tidak?

12 Kisah Misteri dari Gunung Yang Ada di Pulau Jawa


12 Kisah Misteri dari Gunung Yang Ada di Pulau Jawa. berbagai misteri memang sangat menarik untuk di ungkap, seperti halnya 12 misteri gunung-gunung yang berada di pulau jawa ini yang masih sangat kental dengan kisah misterinya, seperti apa kisahnya berikut adalah kisah misteri dari 12 gunung yang berada di pulau jawa.

1. Gunung Merapi


Sejak jaman dulu misteri Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta - Jawa Tengah ini memang sangat menarik perhatian dan sering dibicarakan masarakat. misteri ini tidak lepas dari hal-hal yang gaib yang telah menjadi cirikas gunung ini. Gunung Merapi adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di Indonesia.

Penunggu Merapi Misteri Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kepercayaan banyak orang bahwa di gunung itu hidup berbagai makhluk halus yang sekaligus menjadi penguasanya. Menurut penduduk setempat, Eyang Merapi adalah raja para makhluk halus di Merapi. Penduduk setempat mempercayai bahwa Eyang Sapu Jagad merupakan jin penguasa Merapi yang menentukan apakah gunung akan meletus atau tidak. Karenanya di jaman dulu, Raja Yogyakarta sering memberi sesaji agar Eyang Sapu Jagad tidak marah. 

Sementara Eyang Megantara dipercayai sebagai pengendali cuaca di sekitar Gunung Merapi. Nyi Gadung Melati dipercaya sebagai pimpinan para makhluk halus wanita dan bertugas untuk menjaga kesuburan tanaman di wilayah tersebut. Eyang Antalboga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan Gunung Merapi di permukaan bumi. 

Mbah Petruk dipercaya sebagai pemuka jin yang akan memberi tanda tentang kapan Merapi akan meletus. Kyai Sapu Angin dipercaya menjaga ternak dan semua hewan di Gunung Merapi. Makhluk halus yang satu ini sangat akrab di telinga penduduk setempat, karena jin ini sering mendatangi penduduk. Pasar Bubrah Cerita gaib lainnya yang cukup membuat merinding adalah pasar makhluk halus. ini juga merupakan misteri Gunung Merapi yang cukup dikenal masyarakat luas. Menurut cerita almarhum Mbah Marijan, Setiap malam Jumat akan ada pasar Bubrah yang merupakan pasar para makhluk halus. 

Setiap malam jumat akan terdengar kegaduhan mirip pasar seperti pasar pada umumnya. Suara alunan gamelan dan gending (musik/lagu) Jawa akan kedengar. Ada beberapa pendaki Gunung Merapi yang sudah membuktikan kebenaran mitos Pasar Bubrah ini. Seperti daerah angker lainnya, Gunung Merapi terkadang meminta tumbal. Misteri Gunung Merapi ini memang sulit dipercaya bagi orang di luar kawasan Merapi. Namun realitasnya, beberapa pendaki menjadi korban di Gunung Merapi. 

Penduduk percaya bahwa itu merupakan tanda bahwa penguasa Merapi sedang menginginkan tumbal. Penduduk setempat mempercayai bahwa tumbal yang akan diambil penguasa Merapi adalah orang yang bertabiat buruk maupun orang yang membuatnya marah. Awan Mbah Petruk Sebelum terjadi erupsi pada awal bulan November tahun 2010, masyarakat setempat digemparkan oleh penampakan awan Mbah Petruk yang berhasil tertangkap kamera oleh seorang warga Magelang bernama Suswanto. 

Terdapat cerita menarik yang sempat beredar di masyarakat tentang awan Mbah Petruk yang terlihat menoleh ke kanan. Petruk sendiri adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa yang sering diibaratkan sebagai seorang rakyat. Saat dimainkan oleh dalang, wajah Petruk biasanya selalu menoleh ke kiri. tidak hanya itu, awan Mbah Petruk yang mengarah ke selatan juga merupakan pertanda bahwa kemarahannya akan lebih difokuskan ke wilayah selatan Merapi. Akhirnya pada 5 November 2010, sesuai kepercayaan masyarakat akan pertanda dari awan Mbah Petruk, terjadi erupsi Gunung Merapi dengan letusan dahsyat dan menimbulkan banyak korban. 

2.Gunung Sumbing 


Gunung Sumbing Hasil pemetaan penunggu Gunung Sumbing yang sangat misterius itu merupakan suatu pengalaman fenomental dan subyrktif. Pemetaan ini merupakan kolaborasi hasil diskusi antara pendaki yang senang menikmati atmosfir mistis Gunung Sumbing.

Berikut hasil pemetaan yang pernah dilakukan sekelompok pendaki yang tidak mau disebutkan namanya: 

Kilometer 1-2 
Perjalanan kilometer 1-2 akan melewati sebuah jembatan. Di jembatan itu, terdapat banyak makhluk berjejer dengan segala bentuk. Termasuk raksasa besar berwarna hitam yang dipercaya sebagai penunggu utama Gunung Sumbing. 

Kilometer 2-4 
Perjalanan memasuki kilometer 2 yang didominasi oleh lahan penduduk dan juga hutan belukar yang menyatu dengan pepohonan pinus. Ketika memasuki hutan belukar, Para pendaki mulai mencium bau rokok kemenyan yang sering dihisap oleh simbah-simbah dijawa. Ternyata disepanjang jalan itu banyak makhluk yang mirip orang-orang tua yang sedang duduk menghisap rokok menyan. 

Kilometer 4-Pasar Watu 
Kilometer 4-5, medan semakin sulit dan terjal. Karena itu, para pendaki harus mengikuti jalan air yang berpasir. Semakin tinggi, bentuk makhluk halus yang menghuni Gunung Sumbing adalah menyerupai manusia. pada kilometer ini, mereka bertemu dengan orang tua bersorban dan berjanggut putih layaknya seorang pertapa. 

Pasar Watu-Tanah Putih Di pasar watu, sesosok wanita berambut panjang menampakan diri. Menurut salah seorang dari mereka, ia adalah sundel bolong. Begitu pula di Watu Kotak, ada beberapa wanita dan ibu-ibu berasanggul dan juga orang tua berjubah putih. Di perjalanan Watu Kotak ke Tanah Putih, mereka melihat sesosok pertapa berpakaian hitam sedang duduk bersila. 

3. Gunung Lawu 


Gunung Lawu Gunung lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya, yakni: Harga Dalem, Harga Dumilah, dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di tanah jawa. 

Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pemasoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat misterius yang sering dipergunakan sebagai ajang kemampuan olah batin dan meditasi. Konon katanya Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah jawa dan berhubungab erat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan sura (muharam) yang dilakukan oleh keraton Yogyakarta. 

Siapapun yang hendak pergi kepuncaknya, maka harus berbekal pengetahuan perihal wewaler (peraturan-peraturan) yang tertulis yakni larangan-larangan rertentu untuk tidak melakukan sesuatu baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan ini dilanggar, maka pelaku bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: 

Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan (cakrasurya), dan Pringgadani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggalan Sang Prabu Bhrawijaya? Konon sebagai pengganti tugas kerajaan adalah pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai seorang sakti yang muksa di Ponorogo. Suatu wilayah Gunung Lawu di lereng tenggara.  

4. Gunung Kelud 


Gunung Kelud Nama Gunung Kelud berasal dari jarwadhasak, yakni dari kata "ke" (kebak=penuh) dan "lud" (ludira=darah). Hal ini berarti bila murka, kelud bisa merenggut banyak korban jiwa tak berdosa.

 Menurut kepercayaan penduduk sekitar kawah, Gunung Kelud dijaga sepasang buaya putih yang konon merupakan jelmaan bidadari. Legenda menceritakan, zaman dahulu kala ada dua bidadari sedang mandi di telaga tersebut. karena terlena, dua bidadari itu melakukan perbuatan intim dengan sesama jenis. Perbuatan tersebut rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal, sang dewapun mengutuk kedua bidadari tersebut menjadi buaya. 

Sejak tahin 1000, kelud telah meletus sebanyak 23 kali. Interval letusannya rata-rata berlangsung setiap 15 tahun sekali. Paling pendek 3 tahunan, berlangsung pada tahun 1848. Tapi kelud pernah bersikap manis selama 37 tahun yang berlangsung pada tahun 1864-1901. Entah apa yang membuat kelud selama 37 tahun rak pernah sakit-sakitan. Barangkali para penunggunya merasa nyaman, karena warga sekitar rutin mengirim makanan kesehatan berupa aneka jenis sesaji, seperti yang kerap dilakukan oleh warga desa Sugihwaras. 

Menurut catatan, sudah sebanyak 3 kali kelud sempat mengamuk berat, yakni tahun: 1919, 1951, dan 1966. Uniknya kalo direka-reka, angka tahun meletusnya itu sangat menarik, yakni selalu mengiringi peristiwa besar di Tanah Jawa. Misalkan saja: letusan 1951 yang menandai Pemberontakan Madiu . Kemudian ledakan 1966 yang terjadi setahun pasca G30S/PKI. pada tiga ledakan itu, material yang dimuntahkan meluncur ke bawah melalui Kali Badak, Kali Ngobo, Kali Putih, Kali Semut, dan Kali Ngoto. 

Menurut sesepuh desa di sekitar Gunung Kelud, para korban itu sedang dikersakke oleh dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suamidan yang perempuan diangkat sebagai saudara. Warga menengarai, bila kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah, atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.  

5. Gunung Semeru 


Gunung Semeru Gunung semeru yang puncaknya bernama Mahameru tersebut adalah gunung tertinggi di tanah jawa. Letaknya berada di Proponsi Jawa Timur dan bersanding dengan Gunung Bromo dan Gunung Arjuna, meskipun tidak sedekat hubungannya dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di Jawa Tengah. 

Gunung Semeru yang berketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut memiliki banyak kisah menarik bagi para pendaki. Sosok Shoe Hoek Gie, tokoh tahun 70-an itu memiliki hubungan erat dengan Gunung Semeru. Di tempat itu, Hoek Gie menghembuskan napas terakhirnya. Untuk naik ke Semeru jalur yang banyak ditempuh adalah melalui kota Malang. dari Malang menuju Ranu Pane dan selanjutnya menuju ke Ranu Kumbolo. dilokasi ini terdapat danau sehingga para pendaki sering menghabiskan malam untuk istirahat dan menikmati keindahan danau dari atas ketinggian. 

Perjalanan dari Ranu Kumbolo, para pendaki akan dipertemukan dengan daerah yang ditumbuhi hutan lebat. Dari sini, banyak kisah yang bernuansa mistik terjadi. Konon banyak yang menyebut kawasan hutan tersebut adalah hutan mistis. Sebab, tak jarang pendaki tersesat di hutan tersebut meski sudah berulang kali mendaki Semeru. Orang Jawa mengatakan, oyot kesimpar. 

Artinya, seseorang akan dibuat linglung dan hanya berputar-putar di jalan sama dalam waktu panjang. Selepas hutan, kita akan bertemu dataran lapang yangemyimpan banyak misteri. inilah yang dinamakan arcapada (arca kembar). Dalam legenda Semeru diceritakan bahwa di tempat tersebut terdapat dua buah arca yang berdiri kembar. Pendirinya adalah prajurit dari jaman kerajaan Majapahit. 

Hanya saja keberadaan arca tersebut tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Hanya orang yang memiliki kelebihan saja yang bisa mengetahui keberadaan arca kembar tersebut. Dan yang melihatnya memiliki beragam versi terkait wujud arca kembar tersebut. Ada yang mengatakan arca tersebut sebesar anak kecil. Namun ada juga yang mengatakan bahwa arca tersebut sangat besar sehingga bisa terlihat dari jauh seperti dari Ranu Kumbolo. Selain itu, bagi orang biasa yang terpilih pun bisa menyaksikan keberadaan arca tersebut.  

6. Gunung Bromo 


Gunung Bromo Gunung Bromo yang masuk ke dalam 3 besar sebagai gunung terbaik di dunia bagi para pendaki itu menyimpan sebuah misteri. Konon, tidak sedikit pengunjung yang datang ke lautan pasir di Gunung Bromo tersesat dan kebingungan saat mereka ingin kembali ke jalan semula. 

Tersesatnya pengunjung bukanlah karena kabut, tetapi seperti kepercayaan Suku Tengger (penduduk setempat), di lautan pasir itu terdapat sebuah akar gaib yang melintang yang tidak dapat ditembus dengan kasat mata. Untuk dapat kembali ke posisi semula, maka orang yang tersesat tersebut harus membuka bajunya, kemudian memakainya kembali dengan cara terbalik. Di kawasan Gunung Bromo, seseorang memang tidak boleh berbicara sembarangan dan juga tidak boleh buang air kecil di sembarang tempat.  

7. Gunung Merbabu 


Gunung Merbabu Pasar setan! Sepertinya perkataan ini sangat naif saat terdengar di telinga kita. Tapi fenomena ini sudah lama beredar dilingkungan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Salah satu gunung yang dikeramatkan di Tanah Jawa. 

Konon di puncak, atau barang kali juga di salah satu bagian Gunung Merbabu terdapat pasar setan. Menurut keterangan warga setempat, keberadaan Pasar Setan itu memang ada. Dan ini sudah tidak asing lagi bagi warga di lereng Merbabu. Sementara itu, menyangkut lima jasad wanita yang menempel di perbukitan dan seseorang yang mati dalam posisi bersemedi itu adalah para korban. 

Namun kejadian tersebut dirahasiakan oleh warga, karena bila membocorkan rahasia itu mereka akan menerima musibah. Konon kebanyakan korban menimpa pasa orang yang bermaksud mencari pesugihan atau orang yang tidak ijin ketika akan memasuki Pasar Setan.

8. Gunung Slamet 


Gunung Slamet Gunung Slamet (3.432 meter) merupakan salah satu gunung berapi yang terdapat di pulau jawa. Gunung Slamet yang berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Pemalang ini adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di pulau Jawa. 

Terdapat empat kawah di puncak Gunung Slamet yang semuanya masih aktif. Menurut cerita orang tua, Gunung Slamet memang berbeda dengan gunung lain di Tanah Jawa. Gunung Slamet memang bukan gunung yang biasa didaki untuk tujuan wisata, hobi, atau sekadar ingin mnaklukan puncaknya, melainkan pendakian ke puncaknya untuk tujuan semisal spiritual. 

Dalam istilah bahasa Indonesia, kata slamet berarti selamat. Karenanya semenjak jaman kakek buyut hingga sekarang, Gunung Slamet tidak pernah terbatuk-batuk apalagi meletus. Namun bila Gunung Slamet meletus, maka akan terbelahnya pulau Jawa menjadi dua bagian.  

9. Gunung Gede


 Gunung Gede Kadangkala pendaki yang berada di kawasan alun-alun Suryakencana akan mendengar suara kaki kuda tang berlarian, tetapi kuda tersebut tidak terlihat wujudnya. Konon kenadian ini ditangkap sebagai pertanda Pangeran Suryakencana datang ke alun-alun dengan dikawal oleh para prajurit. 

Selain itu para pendaki terkadang akan melihat sesuatu bangunan istana. Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Bersama rakyat jin, beliau menjadikan alun-alun sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, Kebun Kelala Salawe Tangkal, dan Salawe Manggar. Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun dan disebut 

Batu Dongdang yang dijaga Embah Layang Gading. Sumber air yang berad di tengah alun-alun, semula merupakan jamba. untuk keperluan minum dan mandi. Eyang Jayanusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada di sebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu di halaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah ingin dibancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya.

10. Gunung Ciremai 


Gunung Ciremai Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Tinggi Gunung Ciremai mencapai 3.078 meter dpl. Bagi sebagian masyarakat Kuningan dan sekitarnya, gunung Ciremai diyakini sebagai asal muasal nenek moyang orang Jawa Barat. 

Misteri Gunung Ciremai pun ramai terlahir dari daerah-daerah itu. Misalnya, beberapa situs yang dianggao angker, keramat, dan penuh misteri, seperti situs kubhran kuda, konon didaerah ini terdapat kuburan kuda milik tentara jepang. Jija melewati daerah ini sering terdengar suara kaki kuda. Cerita yang datang dari daerah Pangasungan cukup menyeramkan. 

Pada malam-malam tertentu sering terdengar jeritan atau derap langkah kaki serdadu jepang. Menurut catatan sejarah, Pengangsungan adalah tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia. 

11. Gunung Salak 


Gunung Salak Gunung Salak tidak setinggi gunung tetangga ya, Gunung Gede. Namun tingkat kesulitan yang dimiliki Gunung Salak begitu angker untuk didaki. Termasuk keberadaan Kawah Ratu yangada di wilayahnya. 

Dengan banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan ini tentu akan membungungkan para pendaki. Disebutkan oleh banyak orang, bahwa lokasi ini menyimpan harta karun peninggalan belanda. Harta karun itu berupa emas murni yang dimasukan dalam peti, dan dikuburdi empat titik terpisah di area Gunung Salak. 

Sementara warga yang mencoba mencari harta karun di sekitar Kawah Ratu banyak yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak.  


12. Gunung Arjuno 


Gunung ArjunoGunung Arjuno atau Arjuna ini terletak di Malang, Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3.339 meter dpl. Di gunung tesebut banyak ditemukan banyak petilasan-petilasan bekas Kerajaan Majapahit dan berbagai objek wisata, seperti air terjun. 

Namun, konon untuk mendaki Gunung Arjuna tersebut harus berhati-hati; karena menurut cerita masyarakat, banyak pendaki yang tersesat dan tidak bisa pulang kembali. Berikut kami rangkum 5 legenda mistis Gunung Arjuna tersebut, sebagai berikut : 

Arjuna 
Konon, Arjuna pernah melakukan pertapaan di sebuah gunung dengan sangat khusyuk semala berbulan-bulan. Kemudian tubuhnya mengeluarkan sinar dan memiliki kekuatan yang luar biasa, hingga membuat Kahyangan kacau. 

Kawah Condrodimuko menyemburkan laharnya, bumi berguncang, petir menggelegar di siang hari, hujan turun dan menimbulkan banjir, dan gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke langit. 

Para Dewa yang khawatir, maka melakukan tindakan untuk menghentikan pertapaan dari Arjuna tersebut. Kemudian Batara Ismaya diturunkan ke bumi dengan menjelma menjadi Semar. Dengan kesaktiannya, Semar memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa dan melemparkannya ke tempat lain. 

Kemudian Arjuna terbangun dari pertapaannya dan mendapat nasehat dari Semar untuk tidak melakukan pertapaan lagi. Kemudian tempat pertapaan tersebut disebut Gunung Arjuna, dan potongannya diberi nama Gunung Wukir. 

Acara Ngunduh Mantu 
Cerita mistis di Gunung Arjuna memang kerap terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngunduh Mantu. Para pendaki atau penambang belerang kadang mendengar Ngunduh Mantu, yaitu suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan. Menurut masyarakat, jika mendengar Ngunduh Mantu maka lebih baik tidak meneruskan pendakian ke puncak Gunung Arjuna tersebut; karena jika memaksa meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang. 

Alas Lali Jiwo 
Sebelum mencapai puncak Gunung Arjuna, terdapat tempat yang disebut oleh masyarakat sebagai Alas Lali Jiwo atau berarti hutan lupa diri. Menurut kepercayaan setempat, orang yang mempunyai niat jahat, jika melewati daerah tersebut akan tersesat dan lupa diri. Menurut ahli spiritual, daerah tersebut memang banyak dihuni oleh para jin. 

Para pendaki kadang mendengar suara gamelan dan kemudian menghilang. Konon pendaki tersebut dibawa untuk dikimpoikan dengan bangsa jin daerah tersebut. Menurut mitos, para pendaki juga tidak boleh melanggar beberapa larangan, seperti pendaki tidak boleh berjumlah ganjil, tidak boleh memakai baju merah (warna merah dominan), dan tidak merusak situs-situs petilasan Kerajaan Majapahit yang tersebar di area pendakian Gunung Arjuna tersebut. Pasar Dieng Di wilayah pendakian menuju puncak Gunung Arjuna, dipercaya terdapat 

Pasar Dieng atau biasa disebut pasar hantu. 
Di areal Pasar Dieng tersebut terdapat makam para pendaki yang pernah meninggal di tempat tersebut. Wilayahnya yang datar dan luas merupakan areal yang cocok dijadikan sebuah pasar. Konon, pernah ada pendaki yang membuka tenda di wilayah Pasar Dieng tersebut untuk bermalam sebelum menuju puncak. Pada malam hari, ia dikejutkan dengan suasana ramai di luar tendanya, dan ia melihat sebuah pasar yang sangat ramai. 

Pendaki tersebut dikabarkan berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket. Kemudian ia kembali ke tenda, dan besok pagi ketika ia bangun; wilayah sekitar tendanya sepi tidak ada orang satu pun dan tidak ada bekas-bekas pasar. Jaket yang dibelinya masih ada, namun uang kembalian yang diberikan oleh pedagang pasar tersebut berubah menjadi daun. 

Petilasan Di Gunung Arjuna terdapat banyak situs-situs petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Beberapa petilasan tersebut yaitu, petilasan Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Ayang Sekutrem, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar. Menurut mitos, petilasan-petilasan tersebut dijaga oleh Bambang Wisanggeni yang merupakan anak dari Arjuna dengan Bathari Dresanala. 

Petilasan-petilasan tersebut digunakan orang zaman dahulu untuk melakukan pertapaan. Masyarakat percaya, orang yang melakukan pertapaan tersebut muksa (menghilang dengan jasadnya). Orang-orang muksa tersebut dipercaya masih berada di tempat tersebut dan menjaga tempat tersebut hingga waktu yang tidak diketahui. Jadi itulah keduabelas kisah misteri yang menyelimuti gunung-gunung yang ada di pulau Jawa. Bagaimana dengan daerah kalian khususnya yang tinggal diluar pulau Jawa?